Malam Pencerahan
Oleh Zulfa Jamalie
(Pelajar di Universiti Utara Malaysia, Sintok, Kedah)
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Alquran pada malam kemuliaan. Tahukah kamu, apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Di mana pada malam itu, turun para malaikat dan malaikat Jibril as dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan, malam itu penuh kesejehteraan hingga terbit fajar” (QS. al-Qadar 1-5)
Salah satu kelebihan dan kemuliaan bulan Ramadhan bagi umat Islam adalah diturunkannya suatu malam yang penuh kemuliaan, yakni Lailatul Qadar. Lailatul Qadar merupakan tema menarik dibicarakan, terlebih di sepuluh akhir bulan Ramadhan, sebagai waktu turunnya menurut sebagian besar pendapat ulama.
Berita tentang Lailatul Qadar di samping tercantum dalam surah al-Qadar, biasanya juga disandarkan pada satu hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas yang menyatakan bahwa Rasulullah pernah bercerita bahwa beliau mendapatkan wahyu dari Allah tentang seorang laki-laki Bani Israel yang bernama Syam’un yang berjihad di jalan Allah selama seribu bulan tanpa henti. Rasululah SAW sangat kagum, kemudian berdoa: “Tuhanku, Engkau telah menjadikan umatku orang-orang yang berumur pendek dan sedikit amalan”. Allah kemudian menjawab dan memberi keutamaan kepada Rasulullah SAW dengan Lailatul Qadar yang nilainya lebih baik dari seribu bulan yang telah dihabiskan oleh laki-laki Bani Israil tersebut. Apa arti malam kemuliaan atau Lailatul Qadar itu dan mengapa malam itu dinamakan malam kemuliaan?
Menurut pakar tafsir, Prof. Dr. Quraisy Shihab, dalam Membumikan Alquran (1994: 312), ada tiga kelompok yang memahami qadar dalam konteks berbeda sebagai kata kunci yang terkandung dalam kalimat tersebut.
Kelompok pertama mengartikan qadar dengan penetapan dan pengaturan, sehingga Lailatul Qadar dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Dasar yang dijadikan argumentasi pendapat golongan ini adalah firman Allah dalam surah ad-Dukhaan 3: “Sesungguhnya Kami menurunkan Alquran pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan”. Ada ulama yang yang memahami penetapan itu dalam batas setahun. Alquran yang turun pada saat Lailatul Qadar diartikan bahwa pada malam itu Allah SWT mengatur dan menetapkan khittah dan strategi bagi Nabi Muhammad SAW guna mengajak manusia kepada agama yang benar, yang pada akhirnya akan menetapkan perjalanan sejarah umat manusa, baik sebagai individu maupun masyarakat.
Kelompok kedua mengartikannya dengan malam kemuliaan, karena malam tersebut adalah malam mulia yang tidak ada bandingannya. Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Alquran serta karena ia menjadi titik tolak dari segala kemuliaan yang dapat diraih. Sementara, di dalam Alquran sendiri, kata qadar yang berarti mulia dapat ditemukan dalam surah al-An’am 91, “Dan mereka tidak memuliakan (menghormati) Allah dengan kemuliaan yang semestinya…”
Kelompok ketiga berpendapat bahwa qadar itu berarti malam yang sempit, disebabkan turunnya ribuan Malaikat ke bumi, sebagaimana yang ditegaskan dalam surah al-Qadar sendiri. Kemudian dalam surah ar-Ra’d 26 juga ditemukan qadar dalam artian sempit, yakni “Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa saja yang Dia kehendaki”.
Turunnya ribuan Malaikat ke bumi, menurut Imam Fakhrurrazi dikarenakan keinginan mereka untuk menyaksikan secara langsung dua amal manusia yang menakjubkan, yang kedua amal tersebut hanya bisa dilakukan oleh penduduk bumi, tidak pada penduduk langit. Kedua amal tersebut adalah, pertama orang-orang yang membagikan rezekinya kepada orang-orang yang miskin, dan kedua orang-orang atau para pendosa yang merintih, mengakui segala dosa atau kesalahan yang telah mereka lakukan. Ramadhan adalah bulan dan waktu yang mustajab untuk berdoa dan beristigfar, waktu untuk memohon ampunan Allah. Itulah sebabnya untuk mencari Lailatul Qadar, biasanya orang melakukan i’tikaf, yakni berdiam diri di dalam masjid untuk beribadah dan merenung (tadabbur), dan introspeksi diri. I’tikaf berarti mengkonsentrasikan diri untuk beribadah di bulan Ramadhan dengan tinggal di masjid, berdiam diri di masjid dan berada di dalam masjid, atau mengkhususkan diri pada waktu tertentu untuk hanya berada di dalam masjid. “Barangsiapa menghidupkan malam Lailatul Qadar, melaksanakan shalat dua rakaat, dan memohon ampunan Allah, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya dan mencurahkan rahmat-Nya. Malaikat Jibril pun akan membelai dengan syapnya, sehingga ia akan masuk sorga” (Hadits dari Aisyah).
Menanggapi ketiga pengertian qadar menurut tiga kelompok di atas, selanjutnya Quraisy Shihab menjelaskan bahwa ketika pengertian yang disampaikan oleh masing-masing golongan tersebut pada hakikatnya dapat menjadi benar, karena malam kemuliaan itu apabila dapat diraih maka ia akan menetapkan masa depan manusia, dan pada malam itu ribuan Malaikat juga turun memenuhi bumi membawa kedamaian, ketenangan, dan kesejahteraan.
Lebih jauh, menurut tafsir The Holy Quran, Abdullah Yusuf Ali, Lailatul Qadar sebagai malam kemuliaan yang lebih baik dari seribu bulan sebenarnya tidak perlu diartikan secara harfiah –seribu seribu bulan kurang lebih sama dengan bilangan 80 tahun– karena ia hanya merupakan ilustrasi atau metafora untuk waktu yang tidak terbatas. Karena itu Lailatul Qadar adalah suatu peristiwa atau suatu malam yang mempunyai nilai mistis.
Sebagai peristiwa yang bernilai mistis, Lailatul Qadar bisa dialami oleh setiap orang yang terpilih, di mana mereka akan mengalami perbedaan yang jelas antara yang benar dan yang salah. Akibatnya ia akan mengalami transformasi spiritual dengan timbulnya kesadaran mendalam bahwa ada sesuatu yang benar dalam hidup ini yang ketika diproyeksikan dalam pengalaman hidupnya mengakibatkan semacam pengkhususan dari masa lalunya, dan orang yang bersangkutan merasa mengalami kelahiran kembali. Karena malam ini menjadi lebih baik daripada seribu bulan, lebih baik dari seluruh umur hidup manusia. Momen itulah yang disebut momen mistis, momen ketika seseorang dengan pertolongan dan rahmat Allah sampai kepada semacam pengalaman teofanik atau pengalaman metafisik menemukan kebenaran hakiki dikarenakan keridhaan Allah terhadap taqarrub, mujahadah, dan pengalaman ibadahnya yang intensif pra maupun selama Ramadhan.
Ada pula yang menyatakan bahwa Lailatul Qadar adalah sebuah peristiwa titik balik yang dialami oleh seseorang setelah ia mengalami pengembaraan jiwa di luar lingkaran cahaya keilahian. Karena itu bagi mereka, Lailatul Qadar adalah simbolis yang menunjukkan kembalinya “si anak” hilang ke kandang, setelah mengalami proses penyadaran diri ketika ditampakkan oleh Allah ayat-ayat-Nya kepada mereka. Karena itu siapapun dapat mengalami peristiwa ini, seperti halnya peristiwa-peristiwa yang pernah dialami di kalangan dunia sufi, seperti yang dialami oleh Fudhail bin Iyadh.
Sebelum terkenal sebagai seorang sufi yang saleh, dan guru dari Ibrahim bin Adham, Fudhail dikenal sebagai seorang berandal yang suka melakukan perbuatan maksiat. Hingga suatu malam, ia mendengar seorang wanita yang sedang membaca Alquran tersebut, dan ia semakin tertegun ketika bacaan Alquran wanita tersebut sampai pada ayat: “Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka guna mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun kepada mereka” (QS. al-Hadid 16). Fudhail merasa bahwa ayat itu seakan-akan dipukulkan kepadanya, sehingga bergetarlah jiwanya, ia kemudian merasakan ada iman dalam lubuk hatinya yang selama ini telah terselubungi oleh hawa nafsu. Ambruklah saat itu juga segala syahwat yang memuncak, ia segera lari menuju masjid untuk bertaubat kepada Tuhannya. Sejak itu berubahlah hidupnya menjadi manusia yang shalih dan kembali kepada fitrahnya, persis ketika ia dilahirkan dan berada dalam perjanjian pengakuan akan ketuhanan.
Malam tatkala Fudhail bin Iyadh mendengar ayat Alquran yang menjadi titik balik kesadaran jiwanya, bergetar hatinya, berubah perilakunya itulah makna metamorfosa Lailatul Qadar. Peristiwa yang dialami Fudhail bin Iyadh sendiri adalah peristiwa ulangan dari sejumlah peristiwa yang pernah dialami oleh orang-orang besar lainnya, seperti Umar bin Khattab ketika mendengar bacaan surah Thahaa, Hasan al-Basri, Ibrahim bin Adham yang asalnya hidup dalam kemewahan, Imam Al-Ghazali (Hujjatul Islam), Profesor Nizhamiyah yang hidup dalam popularitas, dan sederet tokoh-tokoh lainnya yang telah mengalami pencerahan jiwa untuk kembali kepada kebenaran Tuhannya.
You are thinking, lots of hard work, much clearer, super progress, I am proud of you, showing your stuff, that’s the way, keep studying, almost there, so close, better than ever, I knew you could do it, way to go.